kehidupan dalam secangkir kebohongan (belajar buat cerpen)
Kehidupan dalam secangkir kebohongan
“Wah.,.aq ada acara di dirumah tu Wan.,.!..maaf banget ya entar malem aq g bsa datang ke pesta ultahmu,.!!..”, Ujar Yusuf saat diundang ke acara ulang tahun ridwan. Malam itu memang dirumah Yusuf sedang ada acara hajatan kecil – kecilan. Dan di organisasi UKM yang ditekuni Yusufpun sedang ada acara cukup besar sore itu.
Ridwan memang seorang aktivis, berpandangan luas, memiliki motivasi hidup yang tinggi, menurutnya. Dengan kaca mata tebalnya, baju kotak – kotak yang selalu licin karena sering di setrika, dan tas hitam eiger yang selalu di kenakanya, ia nampak seperti orang terpelajar. Tahun ini ia menginjak tahun pertama perkuliahan, berbekal pengalaman organisasi di masa SMA, ia bertekad utuk menjadi aktivis kegiatan di masa perkuliahan, hampir semua jenis organisasi di kampus ia geluti, dari yang merah hingga yang kelabu. Awalnya semua itu berajalan lancar sesuai denagn apa yang ia rencanakan sebelumya, tetapi setelah menginjak tengah smester ia mulai bosan dengan semua itu.
Siang itu, Di tengah ramainya persiapan untuk acara sarasehan yang di selenggarakan organisasi UKM yang di geluti Yusuf, ia teringat kalau siang itu juga ia ada kuliah dari Bu Yuli, salah satu dosen yang tidak main – main dalam memberikan nilai. Dengan segera ia minta ijin kepada mas Heri, ketua panitia acara sarasehan itu.
“Kak Heri.,.!”,panggil Yusuf dengan suara perlahan, karena memang kak heri Cuma berada 3 meter di dpanya, namun tidak ada respon dari kak Heri.
Yusuf mendekatinya dan menepuk pundaknya,”kak, aq mau ijin dulu ya.,”.,kata Yusuf harap – harap cemas.
“Mau kemana to.,”, ujar Heri seperti akan mengevaluasi.
Yusuf menjelaskan alasanya dengan terperinci, sampai Heri tak mampu memotong omonganya.
“Sudah.,.?”,taynya heri setelah Yusuf selesai mengutarakan alasanya,
“Sudah kak.,.”, Jawab Yusuf.
“Kuliah Bu Yuli Cuma satu kali itu aja to,.?., kan kamu bisa ikut kuliah buYuli lain waktu, dan materi yang ketinggalan bisa tanya teman kamu, tapi terserah kamulah.,.!!”, Heri memberikan solusi.
Yusuf hanya terdiam karena ia berfikir kalau ia bicara lagi pasti perdebatan tidak akan selesai. Heri sudah memberikan ijin kepada Yusuf untuk mengikuti kuliah, namun ia merasa kak Heri tdak iklas dalam memberikan ijin.
Langsung tanpa pikir panjang lagi ia berangkat ke ruang perkuliahan yang sudah di sepakati sebelumnya oleh mahasiswa dan bu Yuli. Pikirnya saat itu sudah terlambat, karena jam 13.00 kuliah sudah harus di mulai dan pukul 13.15 ia masih perjalanan menuju ruang perkuliahan. Tidak ada rasa kegelisahan sedikitpun di benak Yusuf, karena pmikiran konkret yang selalu ia lekatkan di benaknya.
Terliahat dari kejauhan keramaian di depan ruang kuliah yang akan di pergunakan Bu Yuli untuk mengajar para mahasiswa – mahasiswanya. Dan ternyata meraka adalah teman – teman satu kelas Yusuf.
“Bu Yuli belum datang..,?”, tanya Yusuf kepada Tika teman sekelasnya.
“Belum Suf, di hubungi nomor Hpnya juga g nyambung nih.,.!”,jelas tika.
“tunggu aja dulu, klo 30 menit g dteng brati kosong.,.”.,jawab Richard memberi solusi.
Merekapun menunggu sang dosen dengan obrolan yang cukup asik, sampai – sapai mereka tidak sadar kalu mereka sudah menghabiskan waktu satu jam dalam obrolanya tersebut.
“wah.,.,udah satu jam nih, plang aja yuk.,.!”, seru Robin.
Dan teman – teman yang lain sepakat dengan seruan robin. Mereka satu persatu berhamburan meninggalkan teras ruangan yang cukup luas itu. Tinggal Yusuf sendiri yang memikirkan agenda apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Biasanya malam sebelumnya Yusuf sudah membuat jadwal agenda yang harus ia lakukan esok hari. Di Jadwal yang sudah ia rancang tertulis bahwa jam 13.00 ia ada acara sarasehan di UKM, pukul 14.30 ia ada kajian remaja di Organisasi muslim, dan pkul 18.00 di rumahnya ada hajatan kecil – kecilan. Dengan seksama ia memperhatikan agenda yang telah ia rancang.
“Yusup.,ayo ke kantin.,.!!”,terdengar ajakan Tika yang saat itu belum begitu jauh beranjak pergi dari teras ruang kuliah. Ternyata di sana ia juga bersama Richard, Beni, dan Handoko. Mereka memang teman baik Yusuf.
“Sory teman – teman, kalian duluan aja, aku masih ada sesuatu yang harus diselesaikan nih.,,!”,seru Yusuf dari teras ruang kuliah. Sebenarnya Yusuf tidak enak selalu menolak ajakan teman – teman baiknya itu.
“Yaw dah klo gitu kami duluan ya,.,”,kata Tika sambil melambaikan tangan ke arah Yusuf, dan Yusuf pun mebalasnya dengan lambaian tangan pula.
Yusuf berencana akan kembali ke tempat acara sarasehan UKM yang tadi ia tinggalkan, tap melihat jadwal bahwa sebentar lagi kajian remaja mahasiswa muslim segera dimulai, menimbang – nimbang tanggung jawabnya di kedua acara tersebut, Yusuf masih belum bisa menentukan pilihan. Lama menimbang – ningbag ia menjadi sangat lapar, ternyata dari pagi ia belum sempat sarapan. Teringat ajakan Tika, ia menjadi terasa angat lapar.
“Ah.,.,mending makan dulu nih.,!!”,ungkapnya dalam hati.
Langsung saja Yusuf menuju ke kantin, di sana cukup ramai para mahasiswa dan mahasiswi sedang asik menyantap makan siang mereka, tetapi Yusup tidak melihat keberadaan Tika dan teman – temanya.
“Mungkin mereka sudah selesai.,.”,kesimpulanya dalam hati.
Nasi dengan sayur kubis dan lauk ikan asin di pilihnya, karena memang tidak ada pilihan yang lain lagi di kantin itu. Langsug saja ia mencari meja yang masih kosong untuk ia tempati.
Selesai makan ia memutuskan untuk mendatangi kajian mahasiswa muslim.
Di serambi masjid sudah terpasang sound system yang siap untuk di gunakan. Sebenarnya itu tugasnya sebagai sie perkab di acara tersebut, tapi karena jarang dan hampir tidak pernah mengikuti rapat, karena saking sibuknya, ia menjadi sulit dalam melaksanakan tugasnya.
“Assalamu’alaikum yaa akh.,.!!”,sambil benjulurkan tanganya kepada Yusro teman satu sienya yang sedang menyiapkan perlengkapan acara.
“Wa’alaikum salam, kaifa halluq.,?”,tangan Yusuf pun disambut hangat oleh Yusroon.
“Alhamdulillah ana bil khoir,wa anta,.,?,”
“Alhamdulilah,..,”,.jawab yusroon.
“afwan jiddan akh Yusroon ana kemarin – kemarin g bisa bantu anta.,”,ujar Yusuf dengan wajah menyesal.
“tidak apa – apa akh, kalo anta sedang ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan, lagian juga masih ada akh Fakhih sama akh Hafidz”,jawab Yusroon tenang.
Yusuf menjadi mesara semakin tidak enak dengan teman – temanya di mahasiswa muslim, karena ia belum mampu memberikan yang terbaik untuk organisasi tersebut, terapi mereka tetap begitu baiknya membimbing dan bekerja sama denganya.
Perlengkapan yag di gunakan untuk berlangsungnya acara pun telah selesai di lengkapi, oleh bantuan Yusuf juga tentunya.
Acara sudah di mulai, panitia dan peserta duduk berdampingan mendengarkan ceramh dari bapak Ustadz, kecuali panitia yang sedang bertugas. Baru pembukaan oleh MC, tiba – tiba hand phone Yusuf berbuyi dengan ring tone melodi gitar kesukaanya. Segera ia keluar dari majlis untuk mengangkat telephon, dan ternyata itu dari Heri.
“Sup, kamu di mana.,?.,kuliahnya udah selesai apa belum.,.?”,tanya kak heri seketika yusup mengangkat telephonya.
“Aku di masjid mas,.kuliahnya baru saja selesai nih.,.!!”,jawab yusup dengan sedikit berbohng, karena pikirnya kalau sedang ngomong dengan mas heri harus dengan aasan yang tepat, kalau tidak bsa berjam – jam jadi debat.
“yaw dah, cepat kesini ya,.!”,ujar kak heri tanpa memberika alasan.
“ak......”,tut..tut..tut..belum sempt mengutarakan maksudnya telephone sudah di tutup oleh Heri. Wajar saja dia adalh ketua panitia yang super repot di acara tersebut, masih banyak yang harus ia kendalikan.
Penuh dengan kebimbangan di pikiran Yusuf, ia mencoba menghubungi kak Heri lagi tapi selalu gagal karena nomor sedang sibuk, saat itu Hand phone Heri memang sedang digunakanya untuk menelphone keluar guna mengkoordinasi acara sehingga telephone dari luar susah masuk.
Dari omongan Heri di telephon tadi sepertinya Yusuf sangat diperlukan di acara tersebut, tap ia saat ini sedang mengikuti acara kajian mahasiswa muslim.
“D sini kan tugas ku sudah selesai, g da slahnya aq ke acra sarasehan aja nih.,.,”,pikirnya dalam hati.
Yusuf segera minta ijin kepada ketua panitia kajian mahasiswa muslim tersebut. Yusuf memang lihai mengutarakan alasan, tanpa berlama – lama ia di ijinkan oleh pak ketua untuk meninggalkan acara tersebut.
Segera Yusuf bergegas menuju UKM yang saat itu sedang memasuki acara tanya jawab. Segera ia menemui kak heri.
“ada apa mas.,?”, tanya Yusuf dengan wajah bingung.
“eh...kamu sup,.!.,gmna kuliahnya, udah selesai.,.?.,Heri balik tanya seakan basa – basi dan itu membuat Yusup menjadi semakin bingung.
“Sudah mas, tadi katanya saya di suruh segera datang, mang ada apa mas.,.!”,ujar Yusuf menjelaskan.
“O.,.tadi sebenarnya saya mau sruh kamu jadi MC, krena MC qt sedang sakit sekang,.!!.,tap tenag aja udah di gantikan Lucas kok.,”,Jawab Heri.
“o.,.gitu.,!”, Yusuf sedikit kecewa dengan keputusanya.
Tapi ia selalu berfikir positif,” mungkin tadi aku yang terlalu lama berfikir untuk mengambil keputusan”,pikirnya dalam hati.
Mengikuti acara tersebut ,Yusuf berusaha semaksimal mungkin yang ia mampu. Sebisa mungkin ia mengikuti acara tersebut hingga selesai. Dan tanpa ia sadari ternyata acara tersebut berlangsung hingga larut malam. Ketika beranjak malam pikiranya tidak bisa tenang, karena ia masih da agenda lain di rumahnya. Tapi Yusuf telah berkomitmen untuk menyelesaikan acara tersebut hingga tuntas.
Dan akhirnya, pukul 21.00 acara sarasehan UKM telah selesai, saat itu juga acara ulang tahun ridwan, dan hajatan kecil – kecilan di rumahnya juga telah selesai.
Sang aktivis pun beranjak pulang kerumah denagn wajah kelelahan. Di rumah teman – teman dan kerabatnya sedang membersihkan sisa – sisa makanan habis hajatan tadi.
Dengan pikiran yang berkecamuk, antara capek, malu, dan merasa tidak enak dengan teman – teman rumahnya, ia masuk ke dalam rumah.
siip,,
BalasHapuslanjutkan tuk menulisnya,,
maksih.,.cma iseng2 og mbak.,.
Hapus