makalah tugas BPFR



MAKALAH
PENAMBAHAN TETES TEBU SEBAGAI FLAVOR AGENT UNTUK MENINGKATKAN PALATABILITAS TERNAK BAKALAN SAPI PERANAKAN ONGOLE










Disusun oleh :
Anton Wahyudi
H0510008







JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SIRAKARTA
20113






I. PENDAHULUAN

Permintaan daging terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, pendapatan masyarakat, pendidikan, taraf hidup dari kesadaran akan nilai gizi produk hewani . Perubahan gaya hidup konsumen berkaitan dengan taraf hidup masyarakat menyebabkan terjadinya perubahan mengarah kepada selera mengkonsumsi daging yang berkualitas tinggi. Konsumen di negara maju, berani membayar harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan daging dengan kualitas yang baik menurut selera konsumen, sehingga mendorong produsen menghasilkan daging berkualitas baik dengan harga lebih tinggi (Brooks, et al,  2000).
 Berhasil tidaknya suatu usaha feedlot sangat tergantung pada faktor-faktor seperti bakalan, tatalaksana, dan pakan. Ketiga faktor tersebut harus diperhatikan untuk mendapatkan efisiensi biaya pakan, pertambahan berat badan atau ADG (average daily gain) yang optimal, dan kualitas karkas yang baik, sehingga akhirnya bisa didapatkan keuntungan yang maksimal dari usaha tersebut (Basuki et al., 1998).Peternak harus memperhatikan pakan yang dikonsumsi oleh ternak mereka, selain dari nitrisi yang terkansung di pakan tersebut, peternak juga harus memperhatikan tingkat palatabilitas ternak. Palatabilitas didefinisikan sebagai respon yang diberikan oleh ternak terhadap pakan yang diberikan dan hal ini tidak hanya oleh ternak ruminansia tetapi juga oleh hewan mamalia lainnya terutama dalam memilih pakan yang diberikan (Pond, 1998).
Pemberian ransum atau pakan selain harus memenuhi zat-zat nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah yang tepat, pakan tersebut harus memenuhi syarat-syarat seperti aman untuk dikonsumsi, palatabel, ekonomis dan berkadar gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak (Afriyanti, 2002). Pakan juga harus memebuhi beberapa faktor agar disukai ternak, faktor-faktor tersebut adalah bau, rasa, bentuk dan temperatur pakan (Lawrence, 1990). Upaya menigkatkan palatabilitas ternak sapi bakalan maka dapat menambahkan additive pakan berupa flavour agent untuk memberikan aroma dan rasa yang disenangi oleh ternak, sehingga palatabilitas ternak meningkat dan ADG (average daily gain) meningkat.
Flavour agent yang digunakan yaitu tetes tebu. Selain tetes tebu terdapat bahan – bahan lain yang dapat dimanfaatkan sebagai flavor agent, namun bahan yang mudah didapatkan dengan harga murah adalah tetes tebu. Harganya yang relative lebih murah dibandingkan dengan bahan – bahan yang lain menjadikan tetes tebu dijadikan pilihan utama sebagai additive pakan penambah aroma dan rasa manis terhadap pakan, sehingga peternak mampu memperoleh keuntungan yang optimal. Peternakan sapi bakalan banyak memanfaatkan tetes tebu sebagai additive pakan ternak mereka. Sapi peranakan ongole banyak diternakan di Indonesia, karena sapi tersebut merupakan salah satu sapi lokal Indinesia yang wajib kita lestarikan perkembanganya.
II. ISI

A.    Sapi Bakalan Peranakan Ongole
Menurut Sarwono (2003), sapi bakalan merupakan anak sapi jantan dan sapi betina yang berumur 1-2 tahun untuk selanjutnya digemukkan. Keberhasilan penggemukan sapi potong sangat tergantung pada pemilihan bibit atau bakalanyang baik dan kecermatan selama pemeliharaan. Bakalan yang akan digemukkan dengan pemberian pakan tambahan dapat berasal dari sapi lokal yang dipasarkan di pasar hewan atau sapi impor yang belum maksimal pertumbuhannya. Sebaiknya bakalan dipilih dari sapi yang memiliki potensi dapat tumbuh optimal setelah digemukkan. Prioritas utama bakalan sapi yang dipilih yaitu kurus, berusia remaja, dan sepasang gigi serinya telah tanggal. Usaha penggemukan sapi bertujuan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan bobot sapi yang dipelihara. Pertumbuhan dan lama penggemukan ditentukan oleh faktor individu, ras (bangsa) sapi, jenis kelamin, dan usia ternak bakalan. Laju pertumbuhan ternak pada usaha penggemukan terletak pada pemilihan bakalan. Bakalan harus dipilih dari sapi yang cepat besar. Sapi Peranakan Ongole, sapi ini juga dikenal sebagai sapi Sumba Ongol merupakan hasil persilangan sapi Ongole asal India dengan sapi Madura secara keturuan hasil perkawinan yang dikawinkan kembali dengan sapi Ongole (grading up). Sapi ini berwarna putih dan berpunuk.
Sapi Peranakan Ongole merupakan sapi lokal yang mudah cocok dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Sapi mempunyai indera perasa untuk rasa manis, umumnya akan menyukai makanan yang mempunyai rasa manis seperti tetes tebu (sugarcane molasses), wortel atau apel.  Walaupun demikian pemberian jenis pakan tersebut harus sangat dibatasi terutama untuk sapi yang baru dan berasal dari padang rumput untuk menghindari terjadinya gangguan pencernaan. Ternak dapat membedakan rasa secara spesifik, umumnya ternak memilih makanan/pakan dari jenis yang sama seperti pada saat masih anak dan makan bersama dengan induknya, ternak cenderung menolak atau makan sedikit jenis makanan atau rumput yang tidak dikenal, diperlukan waktu penyesuaian untuk pengenalan jenis makanan baru. Sehingga diperlukan additibe pakan untuk menambahlkan rasa manis pada pakan, sehingga palatabilitas ternak dapat meningkat dan tidak ada pakan yang terbuang percuma karena tidak dimakan.Pond et al. (1995) mendefinisikan palatabilitas sebagai daya tarik suatu pakan atau bahan pakan untuk menimbulkan selera makan dan langsung dimakan oleh ternak. Palatabilitas biasanya diukur dengan cara memberikan dua atau lebih pakan kepada ternak sehingga ternak dapat memilih dan memakan pakan mana yang lebih disukai

B.     Additive Pakan
Additive adalah susunan bahan atau kombinasi bahan tertentu yang sengaja ditambahkan ke dalam ransum pakan ternak untuk menaikkan nilai gizi pakan guna memenuhi kebutuhan khusus atau imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak. Murwani et al., (2002) menyatakan bahwa additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi.  Fungsi feed additive adalah untuk menambah vitamin-vitamin, mineral dan antibiotika dalam ransum, menjaga dan mempertahankan kesehatan tubuh terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang pertumbuhan badan (pertumbuhan daging menjadi baik) dan menambah nafsu makan, meningkatkan produksi daging maupun telur.
Macam ragam pakan additive antara lain additive pada bahan pakan (contohnya agensia antioksidan, agensia cita rasa), additive untuk manipulasi pencernaan dan absorpsi nutrien (contohnya buffer, enzim), additive untuk kesehatan ternak (contohnya obat cacing), additive melalui hormonal (contohnya hormon pertumbuhan, hormon reproduksi), additive untuk meningkatkan kualitas produk (contohnya agensi pewarna, agensi antiradikal).
Berbagai macam feed additive yang bersifat non nutritive menurut Wahyu (1997) antara lain: (1) Makanan tambahan pelengkap untuk memperbaiki tekstur dan kekuatan pakan pellet; (2) Flavoring agent yaitu zat pemberi bau enak yang dipergunakan untuk meningkatkan palatabilitas pakan; (3) enzim-enzim yang memperbaiki daya cerna di bawah kondisi tertentu; (4) Antibiotika, senyawa-senyawa arsen dan nitrofurans dipergunakan pada tingkat rendah untuk melindungi pakan dari serangan perusakan oleh mikroorganisme dan mencegah timbulnya keracunan yang disebabkan oleh mikroflora dalam usus; (5) Antibiotika yang mempunyai spektrum luas (broad spectrum) dan daya absorpsi yang baik ditambahkan ke dalam pakan untuk memerangi penyakit khusus; (6) Senyawa-senyawa kimia tertentu dipergunakan untuk meningkatkan daya penyembuhan dari antibiotika terhadap penyakit; (7) Obat-obat pencegah cacing dalam saluran pencernaan; (8) Antioksidan untuk mencegah kerusakan asam-asam lemak yang tidak jenuh dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak karena proses peroksidasi; (9) sumber-sumber karotenoid ditambahkan dalam pakan untuk memperbaiki pigmentasi dari broiler dan kuning telur dan (10) Hormon-hormon yang digunakan untuk memperbaiki metabolisme ayam.
C.    Flavour Agent
Flavor adalah sensasi yang dihasilkan bahan makanan ketika diletakkan dalam mulut terutama yang ditimbulkan oleh rasa dan bau. Komposisi makanan dan senyawa-senyawa yang merupakan pemberi rasa dan bau berinteraksi dengan reseptor organ perasa dan penciuman menghasilkan signal yang dibawa menuju pusat susunan syaraf untuk memberi pengaruh dari flavor (Zuhra 2006). Menurut Winarno (1997), flavor adalah gabungan dari tiga komponen yaitu bau, rasa dan rangsangan mulut. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas yang dihasilkan secara keseluruhan selain rasa dan bau yaitu tekstur (kehalusan, kekesatan, butir-butiran dan viskositas). Perubahan viskositas dapat mengubah rasa atau bau yang timbul karena dapat mempengaruhi kecepatan timbulnya rangsangan terhadap sel reseptor olfaktori dan kelenjar air liur (Zuhra 2006).
Berdasarkan proses pembuatannya, flavor ini dibedakan atas flavor natural atau alami, sintetis (buatan), dan natur identical (diolah dari bahan alami untuk menghasilkan flavor sintetis). Perasa alami dibuat atau diambil dari bahan-bahan alami, misalnya rasa bawang yang diambil dari ekstrak bawang, rasa ayam yang diperoleh dari sari ayam, rasa udang yang berasal dari kaldu udang, dan seterusnya. Perasa buatan dihasilkan dari bahan-bahan sintetis. Misalnya saja dari sintesis bahan-bahan kimia yang berasal dari turunan minyak bumi. Bahanbahan ini memiliki karakter seperti penyusun rasa tertentu. Misalnya butilcinamaldehid yang memiliki rasa mirip dengan bunga (melati dan lili), butilbutirat yang memiliki rasa mirip buah-buahan pir dan nanas, dan seterusnya atau berbagai asam amino yang bisa menyerupai rasa daging atau ayam. Asam amino ini bisa disintesa dari bahan-bahan kimia. Bahan-bahan kimia tersebut merupakan bahan-bahan yang menyusun komponen flavor (Wahid 2006). Berdasarkan bentuk fisiknya flavor dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelas yaitu bentuk cair (liquid flavourings), bentuk emulsi ( emulsion flavourings) dan bentuk pasta atau padat (paste or solid flavourings). Flavor ditimbulkan oleh adanya senyawa cita rasa (flavouring agent) yang terdapat dalam jumlah yang sangat kecil dalam bahan pangan. Komponen struktural pada sel makhluk hidup yang meupakan sumber terbesar pembentuk flavor adalah protein, lemak, dan karbohidrat.  Flavor dan aroma pada daging ikan berhubungan erat dengan kesegarannya. Senyawa-senyawa yang bertanggung jawab atas terbentuknya flavor dan aroma adalah : turunan aldehid, keton, alkohol, asam amino dan lemak volatil yang terbentuk dengan adanya proses enzimatik dan aktivasitas mikroorganisme (Suptidjah et al. 1984). Flavor yang digunakan pada pakan termak sapi bakalan ongole dapat menggunakan tetes tebu, selain harganya yang relative murah, tetes tebu juga merupakan hasil samping dari pembiatan gula tebu yang tidak dikonsumsi oleh manusia sehingga dapat dimanfaatkan oleh ternak.Tingkat kesukaan ternak terhadap pakan meningkat dan menyebabkan ADG (average daily gain) meningkat, dan tidak ada pakan sisa yang tidak dimakan ternak.
D.    Tetes Tebu
Tetes atau molases adalah cairan kental limbah pemurnian gula yang merupakan sisa nira yang telah mengalami proses kristalisasi. Bentuk fisik tetes atau molases tampak sebagai cairan pekat dan berwarna gelap disebabkan oleh adanya reaksi “browning”, memiliki rasa pahit-pahit manis dan merupakan cairan yang berviskositas tinggi sehingga tidak mudah membeku (Tedjowahjono, 1987). Menurut Hariyati et al. (1976), tetes ini dapat membantu fiksasi nitrogen dalam rumen dan fermentasi sehingga daya cernanya meningkat. Menurut Akhirany (1998), bahan-bahan yang mengandung pati dan gula sangat baik sebagai bahan pengikat karena mempunyai kemampuan merekat yang baik. Molases mengandung 50-60% gula, sejumlah asam amino dan mineral sehingga baik digunakan sebagai perekat (Puturan, 1982). Komposisi kimia tetes atau molases dari limbah industri perkebunan tebu adalah 3,9% protein, 0,29% lemak, 0,4% SK dan 84,4% Beta-N. Tetes diperoleh dari hasil pemisahan sirop low grade dimana gula dalam sirop tersebut tidak dapat dikristalkan lagi. Pada pemrosesan gula tetes yang dihasilkan sekitar 5 – 6 % tebu, sehingga untuk pabrik dengan kapasitas 6000 ton tebu per hari menghasilkan tetes sekitar 300 ton sampai 360 ton tetes per hari. Tetes merupakan bahan yang kaya akan karbohidrat yang mudah larut (48-68)%, kandungan mineral yaqng cukup dan disukai ternak karena baunya manis. Selain itu tetes juga mengandung vitamin B komplek yang sangat berguna untuk sapi yang masih pedet. Tetes mengandung mineral kalium yang sangat tinggi sehingga pemakaiannya pada sapi harus dibatasi maksimal 1,5-2 Kg/ekor/hari. Penggunaan tetes sebagai pakan ternak sebagai sumber energi dan meningkatkan nafsu makan, selain itu juga untuk meningkatkan kualitas bahan pakan dengan peningkatan daya cernanya. Apabila takaran melebihi batas atau sapi belum terbiasa maka menyebabkan kotoran menjadi lembek dan tidak pernah dilaporkan terjadi kematian karena keracunan tetes.






III. KESIMPULAN

1.      sapi bakalan merupakan anak sapi jantan dan sapi betina yang berumur 1-2 tahun untuk selanjutnya digemukkan
2.      Sapi Peranakan Ongol merupakan hasil persilangan sapi Ongole asal India dengan sapi Madura secara keturuan hasil perkawinan yang dikawinkan kembali dengan sapi Ongole (grading up).
3.      Sapi mempunyai indera perasa untuk rasa manis, umumnya akan menyukai makanan yang mempunyai rasa manis seperti tetes tebu (sugarcane molasses), wortel atau apel.
4.      Additive adalah susunan bahan atau kombinasi bahan tertentu yang sengaja ditambahkan ke dalam ransum pakan ternak untuk menaikkan nilai gizi pakan guna memenuhi kebutuhan khusus atau imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak.
5.      Macam ragam pakan additive antara lain additive pada bahan pakan (contohnya agensia antioksidan, agensia cita rasa), additive untuk manipulasi pencernaan dan absorpsi nutrien (contohnya buffer, enzim), additive untuk kesehatan ternak (contohnya obat cacing), additive melalui hormonal (contohnya hormon pertumbuhan, hormon reproduksi), additive untuk meningkatkan kualitas produk (contohnya agensi pewarna, agensi antiradikal).
6.      Flavor adalah sensasi yang dihasilkan bahan makanan ketika diletakkan dalam mulut terutama yang ditimbulkan oleh rasa dan bau. Komposisi makanan dan senyawa-senyawa yang merupakan pemberi rasa dan bau berinteraksi dengan reseptor organ perasa dan penciuman menghasilkan signal yang dibawa menuju pusat susunan syaraf untuk memberi pengaruh dari flavor
7.      Tetes atau molases adalah cairan kental limbah pemurnian gula yang merupakan sisa nira yang telah mengalami proses kristalisasi. Bentuk fisik tetes atau molases tampak sebagai cairan pekat dan berwarna gelap disebabkan oleh adanya reaksi “browning”, memiliki rasa pahit-pahit manis dan merupakan cairan yang berviskositas tinggi sehingga tidak mudah membeku.
8.      Tetes merupakan bahan yang kaya akan karbohidrat yang mudah larut (48-68)%, kandungan mineral yaqng cukup dan disukai ternak karena baunya manis.
9.      Selain itu tetes juga mengandung vitamin B komplek yang sangat berguna untuk sapi yang masih pedet



DAFTAR PUSTAKA
Astuti D. 2005. Peningkatan mutu kerupuk singkong dengan menggunakan flavor kepala udang windu (Penaeus monodon) [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
BROOKS, et al,.2000,  National Beef Tenderness Survey-1998 . J . Anim . Sci . 78 :1852-1860.
Damuningrum A. 2002. Mempelajari karakteristik bakso ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan penambahan bubuk flavor dari ekstrak kepala udang windu (Penaeus monodon) [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Saleh M, Ahyar A, Murdinah, Haq N. 1996. Ekstrak Kepala Udang Menjadi Flavor Udang Cair. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 2: 60-68.
Sarwono. B. 2003. Penggemukan Sapi Potong secara Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suptidjah P, Salamah E, Setianingsih I. 1994. Modifikasi Protein Konsentrat Dan Flavor Dari Kepala Udang. Laporan Penelitian. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.
Wahid N. 2006. Bahan Perasa (Flavor). www.republika.com. [2 September 2008]. Widyakarya Nasional Pangan Dan Gizi. 1998. Risalah Widya Karya Pangan dan Gizi. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia.
Wong D. 1989. Mechanism and Theory in Food Chemistry. New York : AVI Book.
Zuhra C. 2006. Flavor (Citarasa). www.library.usu.ac.id. [16 September 2008].






Komentar

Postingan populer dari blog ini

perjuanagn dan motivasi